Allah Sanggup Menyelamatkan Kita

Bukan kepada kami, ya TUHAN, bukan kepada kami, tetapi kepada nama-Mulah beri kemuliaan, oleh karena kasih-Mu, oleh karena setia-Mu! mazmuR 115:1

Allah Sanggup Menyelamatkan Kita

Allah mempunyai satu tujuan: diri-Nya. “Aku akan menjaga reputasi- Ku” (Yesaya 48:11, The Message). Heran? Mungkin kita berani ber- tanya, bukankah ini sikap yang mementingkan diri sendiri? Bukankah kita menyebut perilaku ini “meninggikan diri”? Mengapa Allah mengunggulkan diri-Nya sendiri? Untuk alasan yang sama dengan yang dilakukan pengemudi sekoci penyelamat. Bayangkan seperti ini: Anda sedang menggelepar-gelepar di laut yang dingin dan gelap. Kapal Anda tenggelam. Jaket pelampung Anda mulai kempes. Kekuatan Anda hampir habis. Di tengah kegelapan malam yang pekat terdengar suara seorang pengemudi sekoci penyelamat. Tetapi Anda tidak dapat melihatnya. Apa yang Anda harapkan akan dilakukan oleh pengemudi sekoci itu? Diam saja? Tidak mengatakan apa-apa? Lewat begitu saja di tengah orang-orang yang hampir tenggelam? Tentu saja tidak! Anda ingin ia berteriak! Yang keras, Bung! Dalam istilah Alkitabnya, Anda ingin dia menunjukkan kemuliaannya. Anda ingin mendengarnya berkata, “Saya ada di sini. Saya mempunyai tempat untuk kalian. Saya dapat menyelamatkan kalian!” Para penumpang kapal yang tenggelam ingin mendengar pengemudi sekoci itu menunjukkan kehebatannya untuk menyelamatkan mereka.

Bukankah kita ingin Allah juga melakukan hal yang sama? Lihat- lah ke sekeliling Anda. Orang-orang menggelepar-gelepar di lautan perasaan bersalah, kemarahan, keputusasaan. Ada yang tidak beres dengan kapal kehidupan mereka. Kita sedang tenggelam dengan cepat. Tetapi Allah dapat menyelamatkan kita. Dan hanya satu berita yang sangat ingin kita dengar. Berita yang dibawa-Nya! Kita ingin melihat kemuliaan Allah. Jangan salah. Allah tidak egois. Ia tidak menunjuk- kan kemuliaan-Nya demi kepentingan-Nya sendiri. Kita yang perlu menyaksikan kemuliaan-Nya demi kepentingan kita. Kita membutuhkan tangan yang kuat untuk menarik kita ke sekoci penyelamat. Dan sesudah naik ke sekoci itu, apa yang menjadi prioritas kita? Sederhana. Memuji Allah. Kita menyatakan kehebatan-Nya. “Wah! Ini kapal yang kuat! Pengemudinya hebat! Ia dapat menyelamatkan orang yang hampir mati tenggelam!”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Main Menu