Menghadapi Ketakutan dengan Datang kepada Allah

Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku? … Berharaplah kepada Allah! mazmuR 42:12

Menghadapi Ketakutan dengan Datang kepada Allah

“Telah Kulihat bangsa ini dan sesungguhnya mereka adalah suatu bangsa yang tegar tengkuk” (Keluaran 32:9).

Allah mengucapkan perkataan ini kepada Musa di Gunung Sinai. Orang-orang Ibrani yang tidak setia dengan menyembah patung anak lembu mengheran- kan Allah. Ia telah menunjukkan kepada mereka perbuatan ajaib dalam peristiwa Keluaran. Mereka melihat air berubah menjadi darah, matahari terik menjadi kegelapan malam, Laut Merah menjadi seperti karpet merah, dan tentara Mesir menjadi umpan ikan. Allah menurun- kan manna bersama embun pagi, burung puyuh bersama datangnya malam. Ia mendapatkan kepercayaan mereka …

Namun, ketika Allah memanggil Musa untuk bertemu di puncak gunung, orang-orang menjadi panik seperti anak ayam kehilangan induknya. “Berkumpullah mereka mengerumuni Harun dan berkata kepadanya: ‘Mari, buatlah untuk kami allah, yang akan berjalan di depan kami sebab Musa ini, orang yang telah memimpin kami keluar dari tanah Mesir — kami tidak tahu apa yang telah terjadi dengan dia’” (Keluaran 32:1).

Wabah ketakutan melanda setiap orang di perkemahan. Mereka mengukir lembu dari logam dan berbicara kepadanya. Perhatikan: yang menjadi masalah bagi Allah bukan adanya ketakutan di antara orang Ibrani, melainkan tanggapan mereka terhadap ketakutan itu. Tidak ada yang dapat meyakinkan mereka untuk percaya kepada-Nya. Wabah tidak. Kebebasan dari perbudakan juga tidak. Allah menerangi jalan mereka dan memberikan makanan ke pangkuan mereka, namun mereka masih tidak percaya kepada-Nya. Tidak ada yang dapat menembus hati mereka….

Lebih dari tiga ribu tahun sesudahnya, kita mengerti perasaan Allah. Berpaling kepada patung untuk meminta pertolongan? Bodoh sekali. Melawan ketakutan dengan datang kepada sebuah patung lembu? Sungguh keterlaluan! Kita memilih terapi yang lebih rumit: berpesta-pora atau berfoya-foya. Kita berlutut di depan botol wiski atau bekerja delapan puluh jam seminggu. Kemajuan? Sama sekali tidak. Kita masih menghadapi ketakutan tanpa datang kepada Allah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Main Menu