Kedalaman Kasih Allah

Kristus Yesus juga telah mengasihi kamu dan telah menyerahkan diri-Nya untuk kita sebagai persembahan dan korban yang harum bagi Allah. Efesus 5:2

Kedalaman Kasih Allah

Siapa yang dapat mengukur dalamnya kasih Allah? Hanya Allah yang mengetahuinya. “Ingin mengukur kasih-Ku?” tanya-Nya mengajak. “Naiklah ke jalan berliku di luar Yerusalem. Ikuti tetes-tetes darah di tanah sampai kamu mencapai bukit itu. Sebelum melihat ke atas, berhentilah dan dengarlah Aku berbisik, ‘Sebesar inilah kasih-Ku kepadamu.’”

Otot-otot yang tersobek karena cambukan menghias punggung- Nya. Darah mengaliri wajah-Nya. Mata dan bibir-Nya tertutup karena membengkak. Rasa sakit semakin menyiksa. Bila Ia menggeser tubuh-Nya ke bawah untuk melegakan kesakitan pada kaki-Nya, saluran napas-Nya tersumbat. Karena tercekik, Ia menggerakkan otot- otot-Nya yang dipaku itu ke atas. Ia melakukan hal ini berjam-jam. Naik ke atas dan ke bawah dengan kesakitan sampai kekuatan-Nya dan keraguan kita habis.

Apakah Allah mengasihi Anda? Lihatlah ke salib itu, dan lihatlah jawaban Anda. Anak Allah mati untuk Anda. Siapa yang dapat mem- bayangkan kasih karunia seperti itu? Pada waktu Martin Luther men- cetak Alkitabnya di Jerman, anak perempuan sang pemilik percetakan itu bertemu dengan kasih Allah. Tak ada orang yang menceritakan tentang Yesus kepadanya. Ia tidak pernah mempunyai perasaan yang mendalam terhadap Allah selain ketakutan. Pada suatu hari, ia mengumpulkan potongan-potongan lembaran Alkitab yang terserak di lantai. Pada satu halaman kertas, ia menemukan kata-kata “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan …” Ayat selanjutnya belum dicetak.

Namun, apa yang dilihatnya sudah cukup untuk menggerakkan hatinya. Pemikiran bahwa Allah mau memberikan sesuatu, melenyapkan ketakutannya dan menggantinya dengan sukacita. Ibunya melihat perubahan sikap- nya. Ketika ibunya menanyakan tentang hal itu, ia mengeluarkan potongan ayat itu dari sakunya. Ibunya membaca dan bertanya, “Apa yang dikaruniakan-Nya?” Anak itu menjawab, “Saya tidak tahu. Tetapi kalau Ia cukup mengasihi kita sampai mau memberi kita sesuatu, seharusnya kita tidak perlu takut kepada-Nya.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Main Menu